September 9, 2019

A Helping Hand May Be Bigger Than You Think

People often volunteer to make a change in our ... read more

September 5, 2019

Live IG: Upgrade Yourself To Strive For Industry 4.0

Pada hari Kamis, 15 Agustus 2019 lalu, Personal... read more

September 30, 2019

Positivity: The Path to Peace and Happiness

Ketika bicara tentang perdamaian dunia, yang jatuh pada tanggal 21 September setiap tahunnya, banyak faktor yang membuat perbincangan tersebut seakan tak ada habisnya. Mulai dari berbagai perbedaan yang ada, baik dalam hal budaya, politik, hingga berbagai langkah dan sikap yang dilakukan pemerintah serta masyarakat guna menjaga perdamaian yang diharapkan tetap terjaga dalam berbagai lintas generasi (Awareness Days, 2019). Namun, apakah memang diperlukan sebuah inisiasi langkah besar dalam berkontribusi menciptakan perdamaian? Bagaimana dengan perdamaian dalam keseharian kita serta perdamaian dalam diri masing-masing?

Perdamaian dalam diri tersebut dapat dicapai ketika individu menjalankan perannya. Untuk itu, seseorang perlu memahami keadaan dan berbagai hal yang terjadi dalam dirinya. Masing-masing dari kita perlu untuk mengambil jarak dari diri sendiri. Tempatkan diri sebagai orang luar untuk kembali mengamati secara netral tentang berbagai hal yang terjadi dalam diri kita. Misalnya, berbagai sensasi fisik, pikiran, serta perasaan yang muncul. Ketika kita secara sadar berpikir dan mengambil langkah hidup secara lebih positif, kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup pun akan dirasakan. Selain itu, aspek lain yang juga penting untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian hidup adalah sikap yang diambil.

Ketika kita mengambil sikap untuk menjadi damai dan bahagia, kita cenderung berfokus terhadap hal-hal dalam hidup yang kita inginkan, butuhkan, atau kita yakini dapat membuat kita bahagia. Hal-hal tersebut biasanya berupa hal-hal yang nyata, praktis, atau dapat juga berupa hal-hal yang intangible, seperti waktu, rasa cinta, persahabatan, dan lainnya (Deggers-White, 2017). Seringkali, kita melupakan bahwa hal-hal yang kita miliki, apa pun bentuknya, tidak dapat menjamin kebahagiaan jangka panjang dalam hidup kita. “Happiness is a state of being, not a pile of stuff”. Well, it’s really easier to be said than done. Hal-hal tersebut memang tidak datang dengan sendirinya. Sama seperti mencapai hal-hal lain dalam hidup, latihan diperlukan untuk memiliki sikap dan pikiran positif, mengambil jarak dari masalah secara netral untuk dapat mencari solusi yang tepat, bersyukur, serta be present. Semakin sering kita mempraktekkannya, pikiran dan kedamaian tersebut akan muncul semakin jelas, seperti lotus yang tumbuh dari lumpur di bawahnya (Puff, 2017). Jadi, bagaimana kita dapat melaithnya?

  • Cut us all a little slack

Be compassionate to ourselves and to others. Kita harus paham bahwa semua orang tidak ada yang sempurna dan memiliki keterbatasan masing-masing. Ketika kita dapat belajar untuk menerima keterbatasan, kesalahan yang dilakukan diri maupun orang lain, saat itulah kita mulai berdamai dengan diri sendiri. Kita mulai menghargai segala aspek dalam dir kita, usaha yang kita dan orang lain berikan pada saat tersebut. Mungkin saja “our best is far from enough”. Namun, dengan menyadari dan menerima hal tersebut, kita diharapkan dapat berdamai dan merasa tercukupi.

  • Be consciously grateful for all that you have rather than worrying about why you don’t.

Di mana pun dan apa pun yang kamu miliki dalam hidup, pasti akan selalu ada alasan untuk bersyukur. Misalnya, hari ini kamu mungkin saja merasa cemas, tidak bersemangat, dan dipenuhi rasa takut, tetapi kamu tetap berangkat ke kantor / sekolah. Memahami hal tersebut, berbagai kesempatan yang kamu miliki, betapapun kecil hal tersebut, dapat membantu meningkatkan rasa syukurmu. Penelitan menunjukkan bahwa rasa syukur berbanding terbalik dengan perasaan depresi dan sedihmy. Semakin bersyukur kamu, maka semakin baik kesempatanmu untuk benar-benar menikmati apa yang kamu miliki dalam hidup.

  • Meet the world with positive attitude.

“Have courage and be kind”. Pepatah dari film Cinderella tersebut benar adanya. Apa pun hal yang sedang kamu hadapi, ingatlah bahwa setiap orang yang kamu temui memiliki pengalaman masing-masing yang juga berdampak untuknya. Hadapilah dunia dengan keterbukaan dan sikap hangat, karena kamu tidak akan pernah tahu kapan sikap positifmu tersebut dapat mempengaruhi keseharian dan hidup orang lain. Selain itu, menebarkan kehangatan dan keterbukaan kepada orang lain juga dapat membantumu melepaskan frustrasi dan kelelahan yang kamu alami. Sikap positif merupakan hal yang menular, sehingga ketika kamu memberikannya kepada orang lain, orang lain pun dapat melakukan hal yang serupa terhadapmu.

Oleh: Kantiana Taslim, M.Psi., Psikolog

References:

AwarenessDays.com. “International day of peace”. https://www.awarenessdays.com/awareness-days-calendar/international-day-of-peace-2019/

Degges- White, S. 2017. “The secret to happiness”. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/lifetime-connections/201703/the-secret-happiness

Puff, R. 2017. “The path to peace of mind”. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/meditation-modern-life/201702/the-path-peace-mind

SHARE THIS ARTICLE