June 12, 2019

Liburan, Ngapain Yaa?

Eat, Sleep, Repeat.

Tiga kata it... read more

May 16, 2019

Pendidikan Indonesia: Apa Yang Dapat Kita Lakukan?

Oleh: Ninette Putri Mustika (Content Developmen... read more

June 13, 2019

Bumi Kita, Tanggung Jawab Siapa?

Oleh: Linda Setiawati, M.Psi., Psikolog

Tanggal 5 Juni 2019 merupakan hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Muslim, khususnya di Indonesia. Hari tersebut adalah hari raya Idul Fitri yang menandakan berakhirnya bulan Ramadan setelah berpuasa satu bulan penuh. Seluruh keluarga berkumpul untuk merayakan hari kemenangan bersama-sama.

Tapi apakah kalian tahu bahwa tanggal 5 Juni setiap tahunnya didedikasikan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) oleh United Nations Environment Programme sejak tahun 1974?  Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan hari bagi orang-orang melakukan sesuatu dalam rangka menjaga bumi, mulai dari lingkup lokal, nasional, hingga global. Hari ini dibuat untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat di dunia untuk menjaga lingkungan.

Sejak tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan sudah menemukan bahwa kecepatan kerusakan atau penurunan kondisi sumber daya alam yang disebabkan oleh manusia mengalami peningkatan tajam (Harvey, 2016). Disadari atau tidak, kondisi bumi kita mengalami perubahan ke arah yang lebih buruk, seperti polusi yang memburuk dan global warming. Hal ini sederhananya dapat terlihat dari jumlah pengguna masker di jalanan yang semakin banyak (polusi udara) dan suhu udara yang semakin lama semakin panas (global warming).

Meskipun sudah banyak gerakan yang dilakukan untuk menjaga dan melestarikan kondisi bumi, tidak jarang kita temukan masyarakat masih melakukan perilaku yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap lingkungan. Contohnya, perilaku membuang sampah sembarangan atau sekadar tidak mematikan lampu saat tidak digunakan. Jika bertanya kepada para pelaku, mereka tentu tahu bahwa perilaku tersebut tidak seharusnya dilakukan, tapi tetap mereka lakukan. Mengapa demikian?

Dirangkum dari Vugt (2012) dan Krueger (2017), terdapat beberapa alasan masyarakat tetap melakukan perilaku yang bisa merusak lingkungan meski mengetahui dampak buruk dari perilaku tersebut. Pertama, masyarakat tidak merasakan secara langsung dampak buruk dari kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini (padahal dampak tersebut nyata adanya!). Misalnya dampak perilaku membuang sampah sembarang tidak langsung terlihat atau dirasakan oleh masyarakat, namun sesungguhnya dapat menyebabkan penyebaran bakteri yang menyerang manusia jangka panjang. Hal ini membuat masyarakat tetap melakukan apa yang biasa mereka lakukan. Jika biasa membuang sampah sembarangan, maka tetap saja membuang sampah sembarangan.

Alasan kedua, fenomena kerusakan lingkungan ini terjadi pada tingkat global sehingga mempengaruhi pandangan individu bahwa mereka tidak memiliki tanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi mengurangi kerusakan lingkungan. Kalimat “Apalah arti perubahan 1 orang, tidak akan berarti apa-apa” seringkali membuat individu semakin tidak peduli dengan apa yang terjadi, apalagi sampai harus melakukan hal-hal untuk menjaga lingkungan. Masyarakat juga cenderung pesimis apa yang mereka lakukan akan memberikan dampak sehingga mereka tidak melakukan perubahan apapun.

 

Jika kita sudah tahu alasan-alasan tersebut, kira-kira apa yang bisa kita lakukan agar mau mengubah perilaku menjadi lebih ramah lingkungan? Berikut beberapa saran yang bisa dilakukan:

1. Menyadari bahwa ancaman kerusakan lingkungan tersebut nyata adanya!

Dampak nyata yang dirasakan adalah perubahan cuaca yang terjadi, bahkan di seluruh bagian dunia. Misalnya, suhu yang sangat dingin saat musim dingin di beberapa kota bagian Amerika, hingga cuaca yang sangat panas di Jakarta pagi hari disertai hujan petir di sore hari. Salah satu penyebab terjadinya cuaca ekstrem adalah pemanasan global.

2. Mulai mengubah perilaku dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil

Percayalah bahwa perubahan kecil yang kita lakukan akan berdampak, pelan-pelan tapi pasti. Jika tidak ada orang yang memulai, maka perubahan itu tidak akan pernah terjadi. Selain itu, setiap kita, sebagai bagian dari masyarakat global, memiliki tanggung jawab untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dan bumi. Kita bisa mulai dari hal-hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, mematikan listrik yang tidak dipakai, hingga cakupan yang lebih luas seperti ikut serta kegiatan penanaman pohon atau memberikan donasi untuk lembaga-lembaga lingkungan hidup.

 

Yuk kita bersama-sama menjaga bumi kita karena your actions matter more than you think!

 

 

Referensi:

https://www.worldenvironmentday.global/about-world-environment-day

Harvey, F. (2016, May 19). Humans damaging the environment faster than it can recover, UN finds. The Guardian. Retrieved from  https://www.theguardian.com/environment/2016/may/19/humans-damaging-the-environment-faster-than-it-can-recover-report-finds

Krueger, J. I. (2017, April 30). Pollution and psychology: The quest for purity begins now. Psychology Today. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/one-among-many/201704/pollution-and-psychology

Vugt, M. V. (2012, June 20). Are we hardwired to damage the environment? Lessons from psychology for sustainable practices in policy and business. Psychology Today. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/naturally-selected/201206/are-we-hardwired-damage-the-environment

SHARE THIS ARTICLE