May 9, 2019

Yuk, Belajar Menyalurkan Amarahmu Dengan Baik

Oleh: Aushi Ariana (Development Intern)

&... read more

May 7, 2019

Exploring World Through Reading: What Books To Read?

Oleh: Kantiana Taslim, M. Psi., Psikolog

... read more

May 16, 2019

Pendidikan Indonesia: Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Oleh: Ninette Putri Mustika (Content Development Specialist)

 

“..selalu ada harapan yang bersinar dari wajah-wajah yang tangguh”. Setidaknya ini adalah kalimat yang saya pikirkan ketika melihat wajah adik-adik yang berada di lini terdepan Indonesia. Selalu ada masa depan di wajah mereka. Ya, adik-adik generasi muda saat ini adalah generasi penerus bangsa; generasi emas pada masanya. Tentunya ini adalah aset terbesar Indonesia.

Setiap berbincang dengan adik-adik ini, saya selalu menemukan pola yang sama, yaitu mereka belum berani untuk bermimpi. “Saya takut ketika saya bermimpi, saya tidak dapat mewujudkannya” kata salah satu anak. Keadaan ini tentu menampar saya sekaligus membuat saya tertegun untuk membantu mendukung mereka agar berani bermimpi; memiliki impian dan tujuan yang akan diraih di masa depan.

Saya pun bertanya mengenai cita-cita. Tentunya, adik-adik tahu apa itu cita-cita. Ketika saya tanya, apa cita-cita mereka, tidak sedikit yang mengatakan “menjadi sukses” atau “menjadi orang kaya”. Setelah saya telusuri, ternyata mereka belum mengetahui berbagai profesi yang ada karena minimnya paparan akan pengetahuan tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan di rural area masih terus dikembangkan.

Ketidaksetaraan antara kualitas pendidikan di pedesaan dan perkotaan adalah tantangan kita semua sebagai warga Indonesia. Sulitnya aksesibilitas, dukungan orang tua, dan minimnya gaji guru merupakan beberapa hal yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Sebuah survei yang diadakan oleh Analytical and Capacity Development Partnership Indonesia (2014) menunjukkan bahwa 1 dari 5 guru tidak hadir di sekolah. Hal ini menyebabkan menurunnya angka kehadiran siswa di sekolah.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan sebagai generasi muda untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di pedesaan?

Menurut Charassangsomboon (2018), salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan mendukung cita-cita mereka. Dukungan ini dapat diimplementasikan kepada metode pembelajaran di sekolah dimana anak menjadi pembelajar aktif dan guru menjadi fasilitatornya. Ajak anak untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuannya sendiri. Model pembelajaran seperti ini terbukti lebih efektif dalam proses pemahaman pelajaran sekolah.

Nah, seberapa penting kita memiliki harapan?

Harapan adalah keyakinan bahwa keadaan dapat menjadi lebih baik. Ketika kita memiliki harapan, itu berarti kita juga memiliki keyakinan bahwa masa depan akan jauh lebih baik. Jika kita sedang berada di masa sulit, “harapan” lah yang membuat kita dapat bangkit kembali. (Snyder, 1994).

Hope helps us keep going.

Harapan dapat “membuka kita” untuk berjuang bangkit dan mengubah kita menuju sesuatu yang lebih baik (Fredrickson, 2009). Bayangkan jika adik-adik di daerah pedesaan memiliki harapan ini. Mereka dapat dengan semangat menjalankan sekolah demi meraih harapan yang diimpikan.

Harapan juga harus kita miliki untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi ke depannya. Salah satu Sustainable Development Goals yang diusung oleh PBB adalah meningkatkan kualitas pendidikan. Tentunya hal ini adalah tugas kita bersama.

 

Mari teruslah memiliki harapan baik dan membaginya kepada orang-orang di sekitarmu! :)


 

Referensi

Analytical and Capacity Development Indonesia. (2014). Teacher absenteeism in Indonesia. Retrieved from http://repositori.kemdikbud.go.id/8560/1/Policy-Paper-ACDP-Teacher-Absenteeism-English-FINAL.pdf

Charassangsomboon, V. (2018). Four ways to improve rural education. Govinsider. Retrieved from https://govinsider.asia/connected-gov/four-ways-improve-rural-education/#

Fredrickson, B. L. (2009). Positivity. London: Crown Publishing Group.

Snyder, C. R. (1994). The psychology of hope: You can get there from here. New York: Free Press.

SHARE THIS ARTICLE