May 7, 2019

Exploring World Through Reading: What Books To Read?

Oleh: Kantiana Taslim, M. Psi., Psikolog

... read more

April 10, 2019

How To Do A Self-Care During Challenging Times

Oleh: Anita Carolina, M.Psi., Psikolog

... read more

May 9, 2019

Yuk, Belajar Menyalurkan Amarahmu dengan Baik

Oleh: Aushi Ariana (Development Intern)

 

Jam beker berbunyi kencang, waktunya kamu mulai menyiapkan diri untuk berangkat sekolah atau ke kampus. Namun, kamu merasa ada yang kurang pagi ini… kamu tidak sahur! Ternyata, ibu kamu ketiduran tadi pagi sehingga tidak ada yang menyiapkan dan membangunkan sahur. Suasana hati kamu menjadi buruk pagi itu, namun kamu memilih untuk mendiamkannya saja mengingat kamu sedang puasa. Sayangnya, ketidakberuntungan kembali terjadi padamu. Kendaraan umum yang kamu tumpangi mogok di jalan dan menyebabkan kamu terlambat tiba di sekolah atau kampus. Kamu akhirnya menyalurkan kemarahanmu dengan berapi-api (venting) kepada teman-teman terdekatmu.

 

Kira-kira cara kamu menyalurkan amarah seperti itu sudah tepat belum ya? Sayangnya, banyak penelitian menemukan bahwa venting dapat membuat masalah semakin bertahan lama. Hal itu terjadi ketika teman-teman kita menyetujui yang kita sampaikan dan membuat kita semakin berapi-api dalam amarah. Begitu juga ketika teman-teman kita menyampaikan cerita serupa. Kamu akan menjadi semakin semangat dalam menyalurkan amarahmu lagi ketika hal yang sama terjadi. Sementara itu, venting malah dapat meningkatkan tekanan darah kita dan menyebarkan perasaan negatif ke lingkungan sekitar kita.

 

Apakah lebih baik jika kita tidak memiliki rasa marah sama sekali? Eits, rasa marah merupakan salah satu emosi dasar yang penting dan pasti dimiliki oleh kita semua loh. Jadi, tidak mungkin ada di antara kita yang tidak bisa merasakan rasa marah sama sekali. Rasa marah berguna untuk melindungi diri kamu sendiri ketika menghadapi sesuatu yang mengancam. Namun, jangan terlalu sering marah ya. Kalau kamu terlalu sering marah, kamu dapat merusak hubungan kamu dengan orang lain dan juga merusak tubuh kamu sendiri.

 

Untuk menghindari kerugian-kerugian tersebut, yuk kita pelajari penyaluran amarah secara sehat dengan 4 W supaya puasa kamu berjalan lancar.

 

1.    Wait (Menunggu)

Saat kamu mulai terpicu, rehatlah sejenak dengan cara mengambil nafas dalam-dalam. Hal ini dilakukan supaya kamu menyempatkan diri untuk memproses atau memikirkan hal yang sedang terjadi.

 

2.    Why (Kenapa)

Tahan diri kamu sebelum membuat kesimpulan. Cobalah melihat dari sudut pandang yang lain terutama sudut pandang subjek utama. Banyak sekali alasan akan terjadinya sesuatu, bisa jadi kita belum punya informasi yang cukup sebelum kita bereaksi dengan tepat.

 

3.    Write (Menulis)

Cobalah untuk mencurahkannya dengan cara lain selain melampiaskan amarah kamu secara meledak-ledak ke teman kamu. Kamu bisa menulis atau mengetikkan apa yang kamu rasakan. Hal ini dapat mengubah suasana hati kamu menjadi lebih baik tanpa menyebarkan hawa negatif ke sekitarmu.

 

4.    Witness (Perhatikan)

Jika kamu masih membutuhkan seseorang setelah kamu mencoba beberapa hal di atas, carilah teman yang kamu percaya dan tentukanlah batas waktu. Contohnya, “Aku boleh cerita sama kamu gak? Lima menit aja. Benar-benar lima menit, kamu boleh ingetin aku nanti kalo sudah lima menit.” Setelah selesai bercerita, fokuslah pada solusi yang ingin kamu dapatkan.

 

“For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness.” ― Ralph Waldo Emerson.

 

Referensi:

Psychology Today. (2019). Anger. https://www.psychologytoday.com/intl/basics/anger

Nemko, Marty. (2014). A One-Minute Course in Anger Management. Diambil dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/how-do-life/201408/one-minute-course-in-anger-management

 

Waters, Brad. (2011). Anger Management: The Five W's of Healthy Venting. Diambil dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/design-your-path/201108/anger-management-the-five-ws-healthy-venting

SHARE THIS ARTICLE