November 14, 2018

Being Quiet ≠ Being Tolerant

Oleh: Kantiana Taslim, M.Psi., Psikolog

A... read more

October 23, 2018

Kamu Berharga

Oleh: Veronica Adesla, M.Psi., Psikolog

&... read more

December 5, 2018

Hero is Within Ourselves

Oleh: Althea (Development Intern)

 

Masih ingatkah dengan peristiwa gempa di Palu baru-baru ini, yang menewaskan salah satu petugas Air Traffic Controller (ATC) Bandara saat mengkoordinasikan pesawat untuk kepas landas? Atau salah satu penyelam yang meninggal saat melakukan pencarian korban Lion Air JT610?

 

Di mata banyak orang, mereka dilihat sebagai pahlawan yang sangat berjasa karena sudah berani mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan nyawa orang lain. Kemudian kita berpikir, “alangkah hebatnya mereka, andai aku juga bisa membuat diriku sehebat itu dan bisa dikenang oleh banyak orang”.

 

Namun apakah kamu tahu, bahwa setiap orang dapat menjadi pahlawan dengan caranya sendiri? Yap! Menjadi seorang pahlawan tidak harus mengorbankan sesuatu yang sebesar nyawa kok, melainkan cukup dengan melakukan hal-hal kecil yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

 

Seperti yang dikutip dari Philip Zimbardo (dalam Cherry, 2018), seorang psikolog dan pendiri Heroic Imagination Project, kunci untuk menjadi seorang pahlawan adalah menaruh perhatian pada orang lain yang membutuhkan – untuk membela moral yang benar, dengan mengetahui adanya risiko personal yang harus ditanggung (secara fisik, sosial, atau kualitas hidup), dan dilakukan secara sukarela tanpa mengharapkan upah atau ganjaran tertentu.

 

Terdapat tiga aspek yang mendasari seseorang dalam menjadi pahlawan, yaitu altruisme, rasa belas kasihan, dan empati (Dalam Cherry, 2018). Ketiga hal ini tidak langsung dimiliki seseorang dari lahir loh. Mindset untuk membantu orang yang membutuhkan tanpa pamrih sangat mungkin dikembangkan dalam diri seseorang dan juga dapat dibantu oleh faktor lingkungan seperti didikan orangtua atau guru.

 

Seorang pahlawan tidak hanya memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Saat berbuat baik, seseorang menunjukkan intensinya untuk kooperatif dan hal ini bisa meningkatkan status serta reputasinya. Dalam hal ini, seseorang dilihat sebagai sosok yang sangat bisa dipercaya dan diandalkan oleh orang-orang di sekitarnya. Karenanya, seseorang dapat lebih mudah menjalani interaksi sosial dan lebih diminati sebagai teman, rekan kerja, pemimpin, dan pasangan (dalam Kafhasan dkk, 2016).

 

Selain itu, seorang pahlawan juga dapat menjadi role-model atau panutan bagi orang-orang di sekitarnya. Seseorang bisa terinsipirasi untuk mengikuti jejak pahlawan karena merasa hal tersebut dapat menuntun mereka pada sebuah pencapaian, yaitu mendapatkan pengakuan dari orang lain (dalam Kafashan dkk, 2016).

 

Mengambil contoh dari kasus nyata seorang diplomat Jepang yang membantu menyelamatkan 6000 orang Yahudi selama masa Holocaust. Pada tahun 1939, Sugihara ditugaskan di Konsulat Jepang yang berada di kawasan Lithuania. Di situ, Sugihara berhadapan dengan orang-orang Yahudi saat berusaha kabur dari salah satu negara yang diduduki oleh NAZI. Ia pun meminta pihak kedutaan untuk memberikan visa pada orang-orang Yahudi tersebut, namun permintaannya ditolak secara tegas.

 

Mesikipun karirnya dipertaruhkan, Sugihara beserta istri dan anaknya memutuskan untuk membantu orang-orang Yahudi dan menentang pemerintahannya. Bermodalkan ribuan kertas kosong dengan segel resmi konsulat dan alat tulis, Sugihara membuat visa bagi orang-orang Yahudi tanpa sepengetahuan pihak kedutaan.

 

Setiap harinya ia bekerja, menulis dan menandatangani setiap visa yang akan dikeluarkan. Di malam hari, istrinya memijat tangan Sugihara yang nyeri akibat menulis ratusan surat tanpa henti. Perjuangannya pun membuahkan hasil, Sugihara mampu mengeluarkan 6000 visa bagi orang-orang Yahudi dan diperkirakan sebayak 40 ribu orang Yahudi dapat hidup sampai saat ini.

 

Berkat tulisannya ini, ia menjadi pahlawan bagi orang-orang Yahudi. Ia berani mengorbankan karir, waktu, dan tenanganya bagi orang-orang yang bahkan tidak memiliki relasi dengannya, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Namun apakah kamu menyadari adanya sosok pahlawan lain di cerita ini? Yap, sosok tersebut tak lain adalah istri dari Sugihara. Ia tetap berada di sisi suaminya dan mendukungnya setiap saat meskipun keputusan suaminya dapat memengaruhi keberlangsungan hidup keluarganya.

 

Jadi pada dasarnya, bagaimana seseorang melihat sosok pahlawan akan berbeda pada setiap orang, tergantung dengan persepsinya masing-masing.

 

Kamu dapat menjadi seorang pahlawan, saat kamu berani meninggalkan pekerjaan untuk mengurus keluargamu.

Kamu dapat menjadi seorang pahlawan, saat kamu rela menunda pekerjaanmu untuk membantu temanmu yang masih tertinggal dalam pekerjaannya.

Kamu dapat menjadi seorang pahlawan, saat kamu rela mengorbankan waktu, tenaga, dan materi untuk memperjuangkan hak orang lain.

Dan masih banyak lagi!

 

Maka dari itu, ingatlah bahwa kepahlawanan selalu ada di dalam diri setiap orang, tinggal bagaimana kamu memanfaatkan hal tersebut untuk menghasilkan hal-hal yang positif bagi dirimu dan orang lain.

 

“Heroes are ordinary people who make themselves extraordinary”

-Gerard Way

 

Daftar Pustaka

 

Cherry, K (2018, May 23). The psychology of heroism. Diambil dari https://www.verywellmind.com/the-psychology-of-heroism-2795905 

 

Kafashan, S., Sparks, A., Rotella, A., & Barclay, P. (2016). Why heroism exists. Dalam Allison, S. T., Goethals, G. R., & Kramer, R. M., Handbook of heroism and heroic leadership (hal 36-57). London: Routledge.

 

Wolpe, I. (2018, Oktober 15). The Japanese man who saved 6,000 Jews with his handwriting: What the astonishing Chiune Sugihara teaches us about moral heroism. Diambil dari https://www.nytimes.com/2018/10/15/opinion/sugihara-moral-heroism-refugees.html?fbclid=IwAR3cw3YfaFCaZk7UBomf_xcCNAMto9G65rpUbVjQGxEqxnF15JVCv9evNsM

 

 

SHARE THIS ARTICLE