October 23, 2018

Kamu Berharga

Oleh: Veronica Adesla, M.Psi., Psikolog

&... read more

September 21, 2018

Terima Kasih: Kata Yang Sering Dilupakan

Oleh: Felicia Ilona Nainggolan, M.Psi., Psikolo... read more

November 14, 2018

Being Quiet ≠ Being Tolerant

Oleh: Kantiana Taslim, M.Psi., Psikolog

Apakah kalian tahu bahwa setiap tanggal 16 November merupakan International Day for Tolerance? United Nations (UN) menetapkan tanggal tersebut setiap tahunnya sebagai Hari Toleransi Sedunia. Hal tersebut dilandaskan pada komitmen UN untuk memperkuat toleransi dengan saling mendorong rasa pengertian di antara masyarakat terhadap berbagai perbedaan yang ada.

Seperti pemberitaan dari berbagai media yang marak belakangan ini, banyaknya isu intoleransi yang terjadi menimbulkan persoalan dan kekhawatiran publik. Mulai dari kasus penyerangan terhadap tokoh agama, tempat ibadah, kelompok tertentu, dan lainnya. Walaupun kasus-kasus tersebut ditindaklanjuti secara tegas, tetapi banyak dari publik dan kaum toleran yang memilih untuk diam dan tidak menyatakan opini dan sikapnya secara tegas. Mengapa ketegasan tersebut penting dalam bersikap toleran? Karena diam bukan berarti toleran.

Bertolak dari hal tersebut, apakah kalian telah memiliki pemahaman akan makna dari toleran itu sendiri? Toleran merupakan sebuah kapasitas dan sikap individu untuk tetap dapat bersikap asertif, sopan, dan menghargai orang lain. Walaupun sebenarnya, individu terkait tidak setuju dan tidak sepenuhnya menyukai pendapat, pandangan, dan keyakinan orang lain yang berbeda dengannya (Austin, 2011).

Misalnya, ketika kamu mendengar temanmu menjelek-jelekkan budaya di keluarga teman lain, kamu dapat bersikap toleran dengan menyampaikan bahwa kamu memahami bahwa perbedaan tersebut memang sulit diterima, tetapi penting tetap untuk menghargai perbedaan yang ada. Ajak temanmu untuk melakukan diskusi secara netral, dengan berbagai data, fakta, penelitian yang ada untuk meninjau suatu masalah secara objektif.  Jika memungkinkan, kamu bisa mengajak teman-temanmu membangun sebuah komunitas untuk mengadakan forum diskusi objektif guna membahas isu-isu terkait.

Bersikap toleran juga dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana lainnya. Misalnya, dengan kamu menyebarluaskan berita yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, tidak berpotensi menyulut perselisihan antar kelompok, suku, agama, profesi, dan lainnya. Ajak teman kamu untuk melakukan hal serupa, dan hindari menyebarkan berbagai berita yang belum diketahui dan tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kamu juga dapat melaporkan berbagai berita yang tidak benar kepada lembaga / pihak yang berwenang untuk menindaklanjutinya.

Walaupun terlihat sederhana, sikap dan ajakan toleran tersebut akan menimbulkan efek riak yang dampak positifnya niscaya tersebar luas. Sikap toleran yang tersebar luas dan ditunjukkan secara tegas merupakan faktor yang berperan penting dalam proses acceptance dan understanding masyarakat terhadap suatu perbedaan. Seseorang dapat bersikap toleran terhadap orang lain walaupun belum muncul pemahaman serta penerimaan terhadap suatu hal / isu (Fish, 2014). Being tolerant doesn’t mean you agree with or accept someone’s belief, opinion, value, and other differences. It just means that you show your respect towards them, or towards your differences with them, without any doubt, any prejudice.

 

 

References:

Austin, Michael W., Ph.D. 2011. “True Tolerance”. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/ethics-everyone/201107/true-tolerance

Fish, Jefferson M., Ph.D. 2014. “Tolerance, acceptance, understanding”. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/looking-in-the-cultural-mirror/201402/tolerance-acceptance-understanding

Malia, Indiana. 2018. “88,2 Persen anak muda menolak intoleransi, tapi mereka tidak konsisten”. IDN Times. https://www.idntimes.com/news/indonesia/indianamalia/88-persen-anak-muda-menolak-intoleransi-tapi-mereka-tidak-konsisten-1/full

 

SHARE THIS ARTICLE