September 21, 2018

Terima Kasih: Kata Yang Sering Dilupakan

Oleh: Felicia Ilona Nainggolan, M.Psi., Psikolo... read more

September 19, 2018

Pernikahan Di Bawah Umur

Wah si X udah nikah lho! Nikah? Bukannya dia ma... read more

October 23, 2018

Kamu Berharga

Oleh: Veronica Adesla, M.Psi., Psikolog

 

Dalam rangka memperingati hari kesehatan mental sedunia, tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh para penyandang dan penyintas depresi. Saya melihat sekarang ini bagaimana dunia sekitar saya membuat saya merasa pilu. Berita-berita yang beredar membuat hidup sekarang ini terasa sangat menyedihkan. Frustrasi, kepedihan, keputusasaan, keterpurukan yang tidak berkesudahan, dan kekosongan terlihat di sorot mata orang-orang. Kawan…, pengalaman dan perasaan kalian sangat berharga, sama berharganya dengan diri kalian. Oleh karenanya apa yang kalian alami dan rasakan tidak layak untuk dihakimi oleh siapapun.

“Mereka tidak mengerti saya, mereka pikir saya mengada-ada. Mereka pikir saya menyederhanakan solusi atas persoalan hidup saya. Padahal mereka yang sedang menyederhanakan persoalan hidup yang saya alami. Mereka pikir saya mengambil jalan pintas. Padahal mereka yang sedang mengambil jalan pintas ketika menarik kesimpulan tentang saya. Seakan perasaan saya tidak ada artinya dan apa yang saya rasakan tidak berharga. Baik…! Saya akan membiarkan mereka menilai saya sesuka hati mereka. Keberadaaan saya memang tidak penting untuk siapapun. Ketika saya kalut dan berkecamuk dengan perasaan dan pikiran untuk mengakhiri hidup, mereka malah merendahkan saya dan meremehkan saya. Tersirat dalam benak saya, siapa yang sebenarnya lebih tidak sehat? Saya atau mereka? Namun, saat ini, saya bahkan tidak tertarik untuk mendengar jawabannya. Jadi, biarkanlah saya sendiri. Saya akan menutup mata dan telinga dari mereka. Saya akan menutup pintu dan jendela agar tidak bertemu mereka.” (anonim)

Pikiran serupa seperti ini dapat muncul di kepala para penyandang depresi ketika mendengar ucapan-ucapan negatif dari orang-orang di sekitar. Kemunculannya tidak hanya sekali tapi berulang kali diputar dan ditayangkan ulang di dalam pikiran, sangat mengganggu, dan sangat merusak. Semakin diputar, semakin membuat mereka merasa tidak berharga. Semakin diputar, semakin rampung unduhan program penghancuran diri otomatis menyusup ke dalam diri mereka.

Depresi bisa jadi tidak terdeteksi di awal. Suatu saat ketika dipicu oleh suatu persoalan, secara tidak terduga muncul kesedihan yang sangat, merasa sangat buruk terhadap diri sendiri dan putus asa yang menyerang dengan intens.

“Rasanya seperti saya berada di dalam gelap, terisap ke dasar lubang. Tidak memiliki arti, tidak lebih baik dari orang-orang. Tidak berharga, dan tidak disadari keberadaannya oleh siapapun. Kamu sangat menyedihkan, itu kata-kata yang seringkali muncul di dalam diri saya dan untuk diri saya. Rasanya seperti tiba-tiba saja ingin menangis, tanpa ada suatu sebab yang jelas. Seakan tiba-tiba saya meratapi hidup sendiri, dan melihat betapa menyedihkannya diri saya. Saya ingin pergi menjauh dari kerumunan, menyendiri dan tidak ditemukan. Rasanya ingin teriak tapi hanya bisa berteriak di dalam hati. Terkadang saya merasa aneh dengan diri saya sendiri, karena ada rasa seakan saya berteman dekat dengan perasaan ini, seakan ia sudah menjadi sahabat dan bagian dari diri saya. Lalu… saya pun mulai menyalahkan diri sendiri, mengatakan ada sesuatu yang salah dari diri saya. Lelah…”

Kawan…, depresi tidak terjadi secara tiba-tiba. Awalnya bisa dari perasaan yang dipendam, kekecewaan yang tidak diungkapkan, lalu kemudian makin lama makin bertambah dan membuat sesak di dada. Tanpa terasa suasana hati menjadi mudah murung, mudah tersinggung, terluka, tidak berharga, dan tidak bersemangat. Menarik diri dari pergaulan, sosialisasi, dan aktivitas yang biasa dilakukan, karena merasa lelah ketika bersama orang lain dan hanya ingin sendiri. Namun, entah mengapa, hal ini terus berlangsung minggu demi minggu hingga suatu saat tiba-tiba ia tersadar ia sendirian, merasa kesepian, tidak berharga, dan menjadi beban untuk orang lain. Kemudian muncul pikiran untuk mengakhiri hidup.

Para penyandang dan penyintas depresi sangat memahami betapa kondisi ini tidaklah mudah. Mereka harus berjuang untuk menemukan THE REASON WHY THEY HAVE TO LIVE? Mereka harus berjuang untuk keluar dari gelap, dari lubang yang mengisap mereka ke dasar. Mereka harus mencari tahu dan menemukan bahwa keberadaannya di dalam kehidupan ini bermakna untuk orang lain. Keberadaan orang lain yang secara tulus peduli, memberikan perhatian, menyediakan hati dan telinga untuk mendengar sungguh menjadi vitamin yang sangat manjur untuk mereka dapat melewati masa-masa kritis yang dialami.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Personal Growth (2018), tanggapan yang dapat membantu bagi para penyandang depresi ketika mereka bercerita atau meminta bantuan adalah:

1.       Bersikap empati

2.       Mendengarkan

3.       Tidak menghakimi

4.       Menghadirkan suasana nyaman dan hangat

5.       Memberikan semangat dan masukan praktis

Perjuangan untuk menemukan the reason why they have to live? berjuang keluar dari gelap dan menemukan makna hidup mungkin dapat terus berlangsung silih berganti dalam hidup penyandang depresi. Perjuangan ini juga bahkan masih terkadang muncul pada para penyintas depresi. Di sinilah kawan… kehadiran kita memiliki arti untuk dapat membantu teman, sahabat, dan keluarga yang mengalami depresi melewati masa-masa kritis yang mereka alami.

Do’s:

·         Ajak bertemu dan tanyakan:

o    Bagaimana kabar kamu?

o    Ada cerita terbaru apa?

o    Bagaimana perasaan kamu?

o    Apakah ada hal yang sedang kamu pikirkan?

o    Apa yang bisa saya bantu atau adakah yang kamu butuhkan?

·         Ketika ia bercerita (empati):

o    “I feel so sorry yah …”

o    “Lalu …?”

o    “Berat yah rasanya …”

o    “Waktu itu gimana perasaan kamu?”

o    “Duh… sampai begitu ya… lalu waktu itu, apa yang kamu lakukan?”

·         Respon non-verbal ketika mendengarkan (empati):

o    Menjaga kontak mata

o    Memberikan support (dukungan) dengan menyentuh tangan, menyentuh bahu, atau memeluk.

o    Memberikan tissue (jika dibutuhkan)

·         Ketika menanggapi:

o    “Setelah mendengar cerita kamu, menurut pendapat saya ... Tapi mungkin saja berbeda dengan apa yang kamu rasakan dan pikirkan. Menurut kamu bagaimana?”

o    Mungkin saya tidak bisa banyak membantu, cuma bisa mendengarkan cerita kamu, tapi tetap cerita-cerita yah. Mungkin bisa bantu ringanin beban kamu.

o    “Saya jujur ga tahu musti ngapain atau berkata apa, tapi apa ada yang bisa saya bantu?”

o    “Masalah kamu berat yah … sepertinya kamu butuh cerita ke profesional psikolog, biar lebih lega dan bisa mendapatkan bantuan atau insight atas masalah kamu. Menurut kamu bagaimana?”

·         Ajak bertemu dan beraktivitas

o    Kita atur waktu lagi yuk ketemu, ngopi bareng atau makan bareng, atau karaoke. Bisa kapan?

·         Olahraga yuk!

 

 

Don’t’s

·         Ajak bertemu dan tanyakan:

o    Ngapain aja kamu? Udah lama diajak ketemuan susah banget!

o    Sibuk banget nih kayanya ya?!

o    Kamu kenapa sih sedih terus? mukanya ga enak diliat gitu.

o    Tumben nih bisa diajak ketemuan. Lagi ga sibuk yah?

·         Ketika ia bercerita:

o    “Loh kok… kenapa kamu diam aja waktu itu?”

o    “Kamu harusnya tuh…”

o    “Kamu jangan begitu, tidak menghargai hidup. Kamu tidak percaya Tuhan yah?!”

o    (memotong pembicaraan) “Kamu baru masalah kaya gitu aja udah down, masalah aku lebih berat, aku tuh ...”

·         Respon non-verbal ketika mendengarkan:

o    Tidak ada kontak mata.

o    Sambil melakukan aktivitas lain.

o    Menepuk dengan kencang.

o    Bercanda ketika suasana sedih.

o    Gestur tubuh menunjukkan sikap tidak menghargai: cuek, meremehkan, menghakimi, mendominasi.

·         Ketika menanggapi (menceramahi, memarahi, menyalahkan):

o    “Udahlah masalah kaya gitu aja, ga usah dipikirin.”

o    “Nih… daripada kamu ngeluh terus soal hal yang sama tapi ga ada jalan keluar mending ikutin kata-kata saya….”

o    “Makanya …, kan dari dulu udah saya bilang, ga percaya sih. Kan kejadian kan!”

o    “Salah sendiri sih! Harusnya kamu tuh …”

o    “Kamu kaya ga punya Tuhan aja ngelakuin cara kaya gitu!”

o    “Makanya banyak doa. Kamu tuh kalau diajak ga pernah mau sih, jadi kaya gini nih!”

·         Menghindari untuk bertemu atau berkomunikasi

SHARE THIS ARTICLE