June 20, 2018

Discover Yourself, Discover Your Future

By: Regina Rachel Poniman, B.A. in Psyc... read more

June 4, 2018

AN INTEGRATED PEOPLE AND ORGANIZATION DEVELOPMENT

Oleh: Vincent Suryadi, M.Sc., Psikolog

&n... read more

July 4, 2018

Are You Willing to Forgive?

Oleh: Kantiana Taslim, M.Psi, Psikolog

Perayaan Idul Fitri yang jatuh pada pertengahan Juni kemarin merupakan momen bagi banyak orang untuk bermaaf-maafan. Ucapan saling bermaafan di hari raya menjadi simbol untuk memulai lembaran baru dalam berelasi, sekaligus sebagai upaya mendapatkan forgiveness. Upaya untuk memaafkan sebenarnya bukan hanya sekedar ucapan, melainkan juga merupakan proses psikologis yang harus dijalani. Proses memaafkan yang telah tercapai dapat terlihat dari ‘aksi’ / tindakan seseorang. Misalnya, ketika saudara kandung yang sebelumnya bertengkar kembali saling bicara dan memaafkan kesalahan satu sama lain.

Banyak yang mengatakan bahwa proses memaafkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Prosesnya panjang dan banyak faktor yang mempengaruhi. Brandt (2014) menyatakan bahwa salah satu faktor utama yang penting untuk dimiliki adalah kemauan untuk memaafkan. Terkadang, kita begitu marah, benci, dan menimbun berbagai perasaan negatif terhadap seseorang, hingga kita melupakan konsekuensi dari berbagai perasaan negatif yang terus disimpan dalam diri. Ketika seseorang tidak memiliki kemauan untuk memaafkan dan terus menimbun perasaan negatif, hal tersebut dapat berujung pada berbagai masalah psikologis, seperti kecemasan berlebihan, depresi, rasa stress yang berlebih, dan lainnya.

Terkadang, memaafkan begitu sulit prosesnya karena seseorang berpandangan bahwa memaafkan merupakan sebuah tindakan yang menunjukkan kelemahan diri. Atau, dengan memaafkan berarti kita setuju terhadap perbuatan salah yang dilakukan orang lain, bahwa perbuatan itu tidak menjadi masalah. Seringkali juga individu berpandangan bahwa dengan memaafkan berarti mereka sudah melupakan peristiwa tersebut.

Dalam artikelnya, Brandt (2014) menekankan bahwa proses memaafkan tidak harus melibatkan orang yang terkait. Memaafkan juga bukan merarti melupakan, atau bahwa hal tersebut menjadi kelemahan dan berarti menyetujui perbuatan salah tersebut. Perlu diingat bahwa proses memaafkan bukanlah untuk kepentingan dan memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi merupakan hal yang penting dilakukan untuk ‘menyembuhkan luka’ diri.

Proses memaafkan dapat dimulai dari usaha untuk memahami bahwa setiap orang memiliki kekurangan, dan bahwa apa yang sudah terjadi tidak dapat diubah. Usahakan dirimu untuk berdamai dan merelakan segala kesalahan tersebut, serta mendoakan agar orang tersebut juga dapat hidup dengan damai. Sadari bahwa melalui proses tersebut merupakan proses pembelajaran diri, dan kamu bertumbuh sebagai orang yang lebih baik melalui proses tersebut.

Untuk menyalurkan emosi negatifmu secara tepat sehingga proses memaafkan dapat berjalan baik, kamu dapat mencoba untuk menumpahkan segala perasaan, pikiran, dan pengalamanmu melalui menulis surat. Surat tersebut tidak perlu diberikan dan dibaca orang lain jika kamu memang tidak ingin. Kegiatan ini dapat membantumu mengontrol pikiran dan perasaan yang mengganggu, dan membantu prosesmu untuk let go.

So, are you willing and ready to forgive?

Referensi: Brandt, A. 2014. How do you forgive even when it feels impossible? https://www.psychologytoday.com/us/blog/mindful-anger/201409/how-do-you-forgive-even-when-it-feels-impossible-part-1

SHARE THIS ARTICLE