February 9, 2018

Yuk, Nikah!

Oleh: Monica Sulistiawati, M.Psi., Psikolog.... read more

January 12, 2018

Perjalanan Baru Di Tahun 2018!

Oleh:

Veronica Adesla, M.Psi., Psikolog... read more

February 15, 2018

Melindungi atau Menyakiti?

Melindungi atau Menyakiti?

Oleh: Sasha Widnifatima

Development Intern

Personal Growth, Counseling and People Development

Biro Konseling Psikologi, Jakarta

 

Apakah kamu pernah dilarang oleh pacar kamu jika mau bepergian dengan teman-teman? Apakah kamu pernah dibatasi mengenai jam pulang setelah beraktivitas oleh pacar kamu? Apakah pacar kamu selalu menelpon kamu setiap saat? Atau apakah kamu memiliki teman dengan kejadian serupa? Jika dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kamu banyak menjawab ‘iya/pernah’, kamu pasti tahu perilaku dalam pacaran apa yang dimaksud. Yup! Benar sekali, posesif.

Posesif disebut sebagai perilaku mengontrol atau memanipulasi seseorang dengan mengontrol apa yang ia lakukan, dengan siapa ia berbicara, siapa yang ia lihat, apa yang ia baca, kemana ia pergi, dan membatasi keterlibatannya dalam banyak hal di lingkungannya (Campbell University, n.d).  Biasanya posesif ditandai dengan pasanganmu yang membuat kamu sulit untuk membuat keputusan sendiri, dan menyesal atau tidak nyaman menjalankan keseharian tanpanya, serta menahanmu untuk bertemu dengan teman-teman yang perlahan-lahan mulai mengontrol hidupmu. Menurut Prevent Child Abuse Utah (2009), posesif merupakan salah satu tanda hubungan yang tidak sehat, bahkan dapat mengarah pada hubungan dengan kekerasan.

Nah, apa sih yang membuat mereka menjadi posesif?

Psikolog klinis dari California School of Professional Psychology di Amerika, Lisa Firestone, Ph.D., mengatakan bahwa perilaku posesif dalam hubungan didasari oleh rasa takut kehilangan yang berlebihan hingga membuat timbulnya rasa insecure dan cemburu pada orang-orang di sekitar pasangannya.  Akan tetapi, mereka memilih untuk tidak mengakuinya dan melampiaskan perasaannya kepada pasangan, sehingga muncul perilaku yang mengontrol perilaku pasangan, yang diharapkan dapat meringankan rasa takut dan insecure mereka.

Lisa Firestone juga mengatakan salah satu faktor yang dapat berperan dalam munculnya perilaku posesif adalah hubungan anak dengan orang tua.  Pengalaman masa kecil seseorang yang tidak terlalu dekat dengan orang tuanya  juga berperan dalam munculnya perilaku posesif, sehingga terbiasa dengan ketidakpastian akan terpenuhinya kebutuhan mereka. Saat dewasa, perasaan tersebut akan membuat mereka cenderung melakukan hal yang sama kepada pasangan, yang muncul berupa perilaku mengendalikan agar merasa aman dan terlindungi dari rasa takut akan penolakan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Pasangan yang posesif cenderung tidak menyadari apa yang mereka lakukan pada pasangannya adalah sesuatu yang berlebihan. Selain itu, mereka juga akan cenderung mengatakan bahwa itu semua ia lakukan semata-mata untuk menunjukkan rasa cintanya, untuk melindungi, dan menjaga pasangannya, sehingga mereka akan terus melakukannya karena merasa apa yang dilakukannya itu benar.

Di samping itu, tidak sedikit juga orang yang menganggap perilaku posesif pasangannya adalah hal yang wajar, karena menganggap itu adalah caranya menunjukkan rasa cinta kepadanya. Dengan kata lain, tidak sedikit orang yang kurang mengetahui perbedaan hubungan yang sehat dan tidak sehat.

Nah, langkah awal yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi maupun menghindari posesif adalah kenali dulu hubungan kamu sehat atau tidak (Centers for Disease Control and Prevention, 2005). Yuk, kenali hubungan kamu melalui beberapa karakteristik hubungan yang sehat dibawah ini:

●      Equality

Pasangan kamu seringkali mengajak kamu untuk berdiskusi dalam membuat keputusan dan tidak mengarahkan apa yang harus kamu lakukan (contoh: pakaian, waktu dengan teman-teman, dsb)

●      Physical Safety

Pasangan kamu menghormati dan menghargai keinginan kamu untuk me-time atau waktu untuk sendiri.

●      Respect

Pasangan kamu menerima dan mendukung apapun yang kamu sukai dan minati, termasuk menerima pendapat dan hubungan kamu dengan teman-temanmu.

●      Comfort

Kamu merasa nyaman dengan hubungan yang sedang kamu jalani dan pasangan kamu menghormati kekuranganmu, sehingga kamu dapat menjadi dirimu sendiri. Kamu juga tidak takut untuk mengatakan apapun yang kamu rasakan kepadanya.

●      Independence

Pasangan kamu akan menghargai kamu yang ingin menjaga dan mempertahankan hubungan kamu dengan teman-teman.

Nah, sekarang kalian jadi tahu kan apa bagaimana karakteristik hubungan kalian, apakah sehat atau tidak. Jika sebagian besar kalian tidak mengalami atau merasakannya, kalian perlu waspada dan segeralah komunikasikan ke pasangan kalian ya!

Referensi:

Campbell University. (n.d). Characteristics of Unhealthy Romantic Relationships. Disadur dari https://assets.campbell.edu/wp-content/uploads/2016/12/22122329/characteristics-   of-unhealthy-romantic-relationships.pdf

Crawford, C. (n.d.). Dealing With a Possessive Boyfriend. Disadur dari http://www.healthguidance.org/entry/16250/1/Dealing-With-a-Possessive-Boyfriend.html

Griffin, T. (2017, July 11). How to Deal With a Possessive Boyfriend. Disadur dari https://www.wikihow.com/Deal-With-a-Possessive-Boyfriend

Firestone, L. (2017, February 14). Be Mine: Dealing With Possessiveness in a Relationship. Disadur dari https://www.psychologytoday.com/blog/compassion-matters/201702/be-mine-dealing-possessiveness-in-relationship

John. (2015, July 28). Should You Work It Out With Your Possessive Boyfriend Or Walk Away? Retrieved January 23, 2018, from http://youqueen.com/love/relationships/how-to-deal-with-a-possessive-boyfriend/

Centers for Disease Control and Prevention. (2005). Choose respect community action kit: Helping preteens and teens build healthy relationships. Disadur dari http://www.aldine.k12.tx.us/cms/file_process/download.cfm?docID=BED9BF514B2EAD07

Prevent Child Abuse Utah. (2009). Teen Dating Violence Awareness and Prevention Organizing a Teen Dating Violence Awareness Week. Disadur dari https://www.health.utah.gov/vipp/pdf/DatingViolence/planning%20a%20week%20toolkit.pdf

 

SHARE THIS ARTICLE