January 12, 2018

Perjalanan Baru Di Tahun 2018!

Oleh:

Veronica Adesla, M.Psi., Psikolog... read more

November 17, 2017

Kesehatan Mental Itu Penting Loh!

<p>&ldquo;<em>There is no health w... read more

February 9, 2018

Yuk, Nikah!

Oleh: Monica Sulistiawati, M.Psi., Psikolog.

Personal Growth, Counseling and People Development

Biro Konseling Psikologi, Jakarta

 

“Yuk, nikah!” Seringkali kata tersebut ada di dalam benak pasangan yang sedang jatuh cinta. Ingin rasanya segera menuju ke pelaminan, membina rumah tangga, dan melahirkan anak-anak yang lucu dan sehat. Oops, tapi jangan terburu-buru mengambil keputusan tersebut ya, Sahabat. Keputusan menikah adalah keputusan yang sakral, yang harus dipertimbangkan dan ditentukan secara matang dan bertanggung jawab. Bukan keputusan atas dasar nafsu semata dan impulsif.

 

Tahukah kamu bahwa ada beberapa hal yang wajib kamu pertimbangkan dan persiapkan saat kamu hendak menuju ke pelaminan? Ini bukan soal bagaimana kamu mempersiapkan hari-H-nya saja, namun bagaimana kelanjutan hidup kalian di hari-hari selanjutnya. Secara garis besar, terdapat 3 hal yang harus diperhatikan, direncanakan, dan dipertimbangkan secara matang sebelum mengambil keputusan untuk menikah.

 

Satu: Fisik

Stop! Ini bukan soal cantik atau tampan, kurus atau gemuk, dan tinggi atau pendek. Hal yang perlu diperhatikan terkait urusan fisik ini adalah kematangan usia kronologis kamu dan pasangan, serta kesehatan kamu dan pasangan. Meski hukum di Indonesia menyatakan usia 17 tahun sudah dewasa dan sudah boleh menikah, namun tidak demikian dengan teori psikologi perkembangan. Usia 17 tahun masih masuk ke dalam tahapan usia remaja. Adapun usia remaja akhir dikategorikan berakhir di usia 21 atau 22 tahun. Dengan demikian, lebih disarankan pasangan yang ingin menikah telah berusia minimal 21 tahun. Tujuannya adalah agar pasangan telah siap dan matang secara emosional.

 

Selain itu, kesehatan bawaan kamu dan pasangan juga penting untuk diperhatikan. Tidak lucu kan jika setelah menikah kamu baru tahu bahwa pasangan kamu mengidap penyakit menular seksual, misalnya. Selain itu, pasangan yang sehat juga penting agar dapat menghasilkan keturunan yang juga sehat. Untuk mengetahui hal ini kamu bisa melakukan premarital checkup di laboratorium atau rumah sakit terdekat.

 

Dua: Mental atau Emosi

Kesiapan mental atau emosi bukan semata-mata ditandai keyakinan kamu sungguh mencintai pasangan kamu dan siap menerima dia apa adanya atau tidak. Justru kesiapan mental atau emosi ini juga meliputi seberapa yakin kamu terhadap kemampuan diri kamu meninggalkan comfort zone dan berlaku dewasa saat terjadi konflik atau masalah. Kedewasaan ini jelas sangat erat kaitannya dengan batasan usia kronologis yang telah dijelaskan di atas. Semakin dewasa usia kamu, diharapkan kematangan emosi kamu semakin baik dan dewasa sehingga segala keputusan yang kamu buat dapat kamu pertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Tidak asal tabrak dan sedikit-sedikit mengatakan cerai. Pamali lho kalau kata orang tua.

 

Tiga: Keuangan atau faktor ekonomi

Saat kamu membicarakan persoalan mengenai uang atau materi dengan pasangan, bukan berarti kamu atau pasangan adalah orang yang materialistis. Persoalan uang memang kondisi yang realistis, yang harus direncanakan bersama-sama, dan diperjuangkan secara kompak. Tidak mungkin dipungkiri, pengeluaran kamu saat masih single akan sangat berbeda dengan pengeluaran kamu setelah berumah tangga, apalagi jika tujuannya adalah memiliki keturunan. Meski orang tua mungkin tidak keberatan untuk membantu  keuangan kalian, namun persoalan kemandirian financial juga sangat berpengaruh terhadap keharmonisan rumah tangga. Untuk itu, ada baiknya hal ini dibicarakan sebagai bagian dari persiapan pernikahan.

 

Demikian 3 garis besar yang hendaknya dapat diperhatikan dan dipertimbangkan secara matang oleh kamu yang ingin menikah. Mengapa demikian? Hal ini bertujuan agar rumah tangga yang kelak kamu bangun akan menjadi rumah tangga yang kekal. Sekali seumur hidup sampai maut memisahkan. Mau kan? Pastinya dong. Nah, kalau kamu mau tahu lebih lanjut tentang persiapan pernikahan ini atau masih ada yang bingung, jangan sungkan untuk hubungi psikolog-psikolog handal di Personal Growth. See ya!

SHARE THIS ARTICLE