July 24, 2017

I’m A Victim Of Cyberbullying: What Can I Do?

<p><em>&ldquo;Ih gendutan banget s... read more

May 4, 2017

Work Life Balance Butuh Usaha Besar, Benarkah?

Work-life balance, yaitu keseimbangan ... read more

September 4, 2017

Social Media: A New Trend of Addiction

<p>Kamu sering merasa cemas ketika tidak memiliki akses internet untuk membuka akun media sosialmu? Gelisah ketika foto yang kamu unggah tidak mendapat banyak <em>likes</em>? Tertekan dan iri melihat unggahan orang lain yang tampak lebih menarik daripada unggahanmu? Atau merasa kegiatan sehari-harimu terganggu karena terlalu banyak mengakses media sosial?</p><p>Pada era modern ini, media sosial telah menjadi bagian penting bagi kehidupan banyak orang. Melalui media sosial, individu dapat membentuk citra diri dalam rupa tampilan profilnya, sekaligus membangun koneksi virtual dengan individu lain. Berbagai kemudahan dan hal menarik dapat diperoleh melalui media sosial. Tak heran, penggunaan media sosial dapat menimbulkan efek kecanduan bagi sebagian orang.</p><p>Pada tahun 2013, Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyebutkan bahwa terdapat 63 juta penduduk Indonesia yang menggunakan internet. Dari jumlah tersebut, 95% di antaranya menggunakan internet untuk jejaring sosial. Angka ini pun diperkirakan akan terus meningkat. Sebuah media asal Jepang, The Diplomat (2017), mengungkapkan bahwa meski hanya seperempat dari keseluruhan penduduk Indonesia yang memiliki akses internet. Kini, Indonesia diketahui sebagai salah satu dari lima besar pasar media sosial dunia.</p><p>Media sosial, atau yang juga dikenal dengan <em>social networking sites</em> (SNSs), adalah sebuah bentuk komunitas sosial, di mana penggunanya dapat membangun profil publik individual, berinteraksi dengan teman-teman di kehidupan nyata, dan bertemu dengan orang-orang lain yang memiliki kesamaan minat (Kuss &amp; Griffiths, 2011). Kesempatan membangun citra diri di sosial media kemudian akan memberikan perasaan menyenangkan pada para penggunanya. Perasaan menyenangkan inilah yang memungkinkan terjadinya efek kecanduan terhadap media sosial (Kuss &amp; Griffiths, 2011). Dilihat dari perspektif biopsikososial, kecanduan terhadap media sosial memiliki simtom-simtom kecanduan yang serupa dengan kecanduan zat-zat tertentu. Simtom-simtom tersebut ialah:</p><p>1)&nbsp;&nbsp;&nbsp; <em>Mood modification</em>. Contoh: keterlibatan dengan media sosial dapat menyebabkan perubahan keadaan emosional yang menyenangkan.</p><p><em>2)&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em><em>Salience</em>. Contoh: preokupasi tingkah laku, kognitif, dan emosi dengan penggunaan media sosial.</p><p><em>3)&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em><em>Tolerance</em>. Contoh: toleransi waktu untuk menggunakan media sosial yang terus berkembang.</p><p><em>4)&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em><em>Withdrawal symptoms</em>. Contoh: mengalami simtom-simtom fisik dan emosi ketika penggunaan media sosial dibatasi atau diberhentikan.</p><p><em>5)&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em><em>Conflict</em>. Contoh: masalah-masalah interpersonal dan intrapsikis yang muncul akibat penggunaan media sosial.</p><p><em>6)&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em><em>Relapse</em>. Contoh: rasa kecanduan dapat dengan mudahnya muncul ketika penggunaan media sosial yang berlebihan berhenti selama beberapa waktu. (Griffiths, 2005)</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sama halnya dengan kecanduan lainnya, kecanduan media sosial juga memiliki berbagai dampak negatif jika tidak ditangani dengan baik. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh <em>Ditch the Label</em> (dalam BBC News, 2017) menemukan bahwa 40% pengguna media sosial akan merasa buruk jika tidak mendapat <em>likes</em> pada unggahan <em>selfie</em>nya. Tidak hanya itu, 35% pengguna juga mengaku bahwa kepercayaan dirinya berhubungan langsung dengan jumlah <em>followers</em> mereka di media sosial. Penelitian lainnya juga mengungkapkan sejumlah dampak negatif dari kecanduan media sosial berikut ini.</p><p>1)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seseorang yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan media sosial cenderung mengasingkan diri dari komunitas di dunia nyata;</p><p><em>2)&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em><em>Feedback</em> yang diperoleh seorang <em>social media junkie</em> dalam akun media sosialnya cenderung memiliki pengaruh besar terhadap <em>well-being</em> dan kepercayaan dirinya;</p><p>3)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prestasi akademik pelajar yang kecanduan media sosial cenderung lebih rendah daripada pelajar lainnya;</p><p>4)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kecanduan media sosial, khususnya <em>Facebook</em>, diketahui dapat berdampak buruk terhadap kualitas hubungan romantis seseorang (Kuss &amp; Griffiths, 2011).</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jika kamu merasa sebagai salah satu <em>social media junkie</em>, ayo mulai lakukan sesuatu untuk mencegah dampak-dampak negatif tersebut! Berikut ini adalah sejumlah tips yang dapat kamu gunakan untuk melepaskan dirimu secara bertahap dari kecanduan media sosial.</p><p>1)&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Alihkan prioritasmu. </strong>Jika biasanya kamu selalu menyempatkan waktu untuk membuka media sosial, mulailah isi waktumu dengan kegiatan lain. Ingat-ingat adakah hal lain yang lebih penting untuk kamu lakukan. Meski ketika tidak ada lagi yang kamu rasa penting untuk dilakukan, gunakanlah waktumu untuk mengeksplorasi dunia sekitarmu, atau sekadar untuk rileks dan beristirahat. Usahakan untuk membuat daftar hal-hal apa saja yang perlu kamu lakukan berdasarkan urutan prioritasnya di setiap awal hari atau pekan. Jangan biarkan waktumu terbuang percuma karena media sosial!</p><p>2)&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Bertemanlah di luar media sosial.</strong> Ketika kamu merasa &lsquo;diasingkan&rsquo; oleh teman-temanmu di dunia maya, gunakan alasan tersebut untuk memperluas lingkup sosialmu di dunia nyata. Daripada <em>scrolling</em> foto-foto liburan dan pengalaman menyenangkan orang lain yang tiada habisnya, mulailah terlibat dengan kelompok pertemuan tertentu, mencari hobi baru, atau ikut serta dengan aktivitas ekstrakurikuler yang tersedia di sekolah. Aktivitas-aktivitas ini akan membantumu lebih terikat dengan apa yang ada di sekelilingmu tanpa terlalu memedulikan apa yang terjadi <em>online</em>.</p><p><strong>3)&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Jangan rekam hidupmu dengan media sosial, hiduplah di dalamnya!</strong> Lakukanlah aktivitas di luar rumah dan <em>live your life</em>! Lebih dari itu, perluaslah minatmu dan cobalah hal-hal baru. Akan tetapi, coba untuk melakukannya tanpa merekam untuk kemudian diunggah ke media sosial. Ketika kamu benar-benar hadir secara utuh dalam aktivitas yang sedang kamu lakukan, kamu akan lebih terhubung dengan apa aktivitas dan perasaanmu saat itu, serta terlepas dari stres atau kecemasan yang mungkin sedang kamu rasakan. Lebih lagi, pengalaman nyata akan membuatmu lebih muda ketika berinteraksi dan membangun sosialisasi dengan orang lain di dunia nyata.</p><p>4)&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Lepaskan dirimu secara total dari waktu ke waktu.</strong> Cobalah untuk melepaskan diri dari media sosial dengan mengatur waktu spesifik yang kamu perbolehkan untuk membuka media sosial setiap harinya dan berapa lama. Jika mungkin, matikan media sosialmu secara total, mulai dari beberapa hari setiap minggunya hingga setiap bulan. Buatlah batasan sendiri yang membuatmu nyaman. Meski awalnya akan menyiksa, kamu akan segera memperoleh alternatif lain untuk menggunakan waktumu dan merasa lega dari beban yang selama ini kamu miliki (Kang, 2015).</p><p>&nbsp;</p><p>Oleh: Levina Adiputri</p><p>Development Intern</p><p>&nbsp;</p><p>Referensi:</p><p>Griffiths, M. (2005). A &lsquo;components&rsquo; model of addiction within a biopsychosocial framework. <em>Journal of Substance Use</em>, <em>10</em>(4), 191-197.</p><p>Kang, S. (2015). <em>Overcoming social anxiety in a social media world</em>. Retrieved August 16, 2017, from https://www.psychologytoday.com/blog/the-dolphin-way/201509/overcoming-social-anxiety-in-social-media-world</p><p>Kominfo RI. (2013). <em>Kominfo: pengguna internet di Indonesia 63 juta orang</em>. Retrieved August 15, 2017, from https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo %3A Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta Orang/0/berita_satker</p><p>Kuss, D. J., &amp; Griffiths, M. D. (2011). Online social networking and addiction&mdash;a review of the psychological literature. <em>International journal of environmental research and public health</em>, <em>8</em>(9), 3528-3552.</p><p>Wakefield, J. (2017, July 19). <em>Instagram tops cyber-bullying study</em>. Retrieved August 15, 2017, from http://www.bbc.com/news/technology-40643904</p><p>&nbsp;</p>

SHARE THIS ARTICLE