May 4, 2017

Work Life Balance Butuh Usaha Besar, Benarkah?

Work-life balance, yaitu keseimbangan ... read more

May 4, 2017

Work Hard, Play Hard

Bekerja merupakan bentuk usaha seseorang untuk ... read more

July 24, 2017

I’m a victim of cyberbullying: What can I do?

<p><em>&ldquo;Ih gendutan banget sekarang, double chin tuh.&rdquo;</em></p><p><em>&ldquo;Ah sok cantik deh lo.&rdquo;</em></p><p>Bagi pengguna media sosial seperti Instagram dan Facebook, melihat komentar-komentar seperti itu diunggah para netizen bukanlah hal yang asing lagi. Media sosial telah dijadikan ajang bagi para netizen untuk mengekspos kesalahan orang lain, mempublikasikan konten memalukan tentang orang lain, serta memberikan komentar yang bersifat melecehkan. Penggunaan internet untuk tujuan-tujuan tersebut dapat disebut sebagai tindakan <em>cyberbullying. </em></p><p><em>Cyberbullying </em>adalah sebuah bentuk agresi yang secara sengaja dan berulang kali dilakukan menggunakan teknologi, seperti media sosial, <em>e-mail, blog, </em>dan sebagainya (Kowalski, Limber, &amp; Agatston, 2012). Di zaman teknologi seperti ini, seperti yang kita lihat, kasus-kasus terkait <em>cyberbullying </em>sedang naik daun, terutama di remaja. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kasus <em>cyberbullying </em>paling sering terjadi di siswa usia sekolah menengah (Kowalski, Limber, &amp; Agatston, 2012). Survey yang pernah dilakukan di sekolah menengah di Indonesia juga mengungkapkan sebuah fakta yang mengkhawatirkan, yaitu bahwa sebanyak 80% siswa pernah menjadi korban <em>cyberbullying, </em>dan banyak diantara mereka yang mengalaminya setiap hari (Safaria, 2016). 40.2% mengalami<em> cyberbullying </em>lewat media sosial, 12.7% lewat pesan singkat, dan yang lain lewat telepon. Terlebih lagi, bentuk <em>cyberbullying </em>yang paling umum adalah pelecehan, seperti komentar-komentar yang dicontohkan di atas.</p><p>Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa <em>cyberbullying </em>memiliki banyak pengaruh negatif, baik terhadap korban maupun pelaku. Berbagai penelitian mengenai <em>cyberbullying </em>di remaja menunjukkan bahwa menjadi korban ataupun pelaku <em>cyberbullying </em>diasosiasikan dengan tanda-tanda distres psikologis seperti depresi, kecemasan, <em>self-esteem </em>yang rendah, tindakan menyakiti diri sendiri, serta pikiran mengenai bunuh diri (Schneider et al., 2012; Kowalski &amp; Limber, 2013). Di sekolah, korban dan pelaku <em>cyberbullying </em>juga cenderung berperforma buruk; mereka sering absen, mendapat nilai rendah, dan susah berkonsentrasi (Vazsonyi et al., 2012).</p><p>Jika kamu, seperti 80% siswa sekolah menengah lainnya, pernah atau bahkan sedang menjadi korban <em>cyberbullying, </em>maka tentunya kamu sudah <em>familiar </em>dengan pengaruh negatifnya. Karena <em>bullying </em>dilakukan lewat teknologi yang dimanapun dan kapanpun dapat diakses, maka sangat mudah bagi korban <em>cyberbullying</em> untuk merasa bahwa ia tidak bisa lepas dari <em>bullying </em>tersebut (Kowalski et al., 2014). Meski begitu, sangat penting untuk kamu tidak merasa putus asa<em> </em>atau tidak bisa melakukan apa-apa. Penelitian menunjukkan bahwa perasaan putus asa dan menjadi pasif malah dapat memperburuk pengaruh negatif dari <em>cyberbullying </em>yang kamu alami (Kowalski et al., 2014). Terdapat beberapa hal yang bisa kamu lakukan yang sudah terbukti efektif dalam menangani <em>cyberbullying </em>(National Crime Prevention Council, 2001)<em>. </em>Mari simak daftar di bawah ini:</p><p>1)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ceritakan kepada orang dewasa yang kamu percaya mengenai apa yang terjadi.</p><p>2)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jangan hapus pesan atau komentar yang kamu terima, karena hal itu dapat disimpan untuk menjadi bukti. Kamu dapat mengajak orang dewasa yang kamu percaya untuk melaporkan <em>cyberbullying </em>tersebut beserta bukti-buktinya. Berikut ini cara-cara yang dapat kamu lakukan:</p><p>a)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jika <em>cyberbullying </em>terjadi di konteks teman-teman sekolah, laporkan kepada guru dan kepala sekolah.</p><p>b)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jika <em>cyberbullying</em> sudah mengarah ke tindak kekerasan, seksual atau pemerasan, laporkan ke kepolisian.</p><p>c)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jika kamu ingin melaporkan secara <em>online, </em>kamu dapat membuka laman https://www.lapor.go.id/</p><p>3)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jangan <em>forward </em>pesan atau komentar yang bisa membagikan rumor negatif tentang kamu atau orang lain.</p><p>4)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jangan melakukan <em>cyberbullying </em>balik kepada pelaku atau siapapun. Penelitian menunjukkan bahwa korban <em>cyberbullying </em>memiliki kecenderungan untuk juga melakukan <em>cyberbullying </em>kepada orang lain (Kowalski et al., 2014), sehingga hal tersebut bisa menjadi siklus yang terus menerus.</p><p>5)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jika memungkinkan, laporkan insiden <em>cyberbullying </em>kepada administrator media sosial dimana <em>cyberbullying </em>tersebut terjadi. Banyak media sosial yang memiliki aturan-aturan dan layanan keamanan untuk mengurangi <em>cyberbullying.</em></p><p>6)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jika kamu menjadi korban <em>cyberbullying </em>yang dilakukan oleh seseorang yang kamu kenal, seperti teman atau kerabat, coba bicarakan dengannya secara tegas. Jelaskan dengan asertif bahwa <em>cyberbullying </em>adalah tindakan yang memiliki banyak dampak negatif, baik untuk korban ataupun pelaku.</p><p>7)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Selalu ingatkan dan yakinkan diri bahwa kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu, dan bahwa <em>cyberbullying </em>adalah tindakan yang salah. Jangan salahkan diri sendiri. Tidak ada alasan untuk seseorang melakukan <em>cyberbullying. </em></p><p>&nbsp;</p><p>Oleh: Neira Ardaneshwari</p><p>Counseling and Development Intern</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Referensi</strong></p><p>Kowalski, R. M., Giumetti, G. W., Schroeder, A. N., &amp; Lattanner, M. R. (2014). Bullying in the digital age: A critical review and meta-analysis of cyberbullying research among youth.<em> Psychological Bulletin, 140(4), 1073&ndash;1137.</em></p><p>Kowalski, R. M., &amp; Limber, S. P. (2013). Psychological, physical, and academic correlates of cyberbullying and traditional bullying. <em>Journal of Adolescent Health, 53</em>, S13&ndash;S20.</p><p>Kowalski, R. M., Limber, S. E., &amp; Agatston, P. W. (2012). <em>Cyberbullying: Bullying in the digital age</em> (2nd ed.). Malden, MA: Wiley-Blackwell.</p><p>National Crime Prevention Council. (2001). Cyberbullying Tips for Teens. Dipetik dari http://www.ncpc.org/topics/cyberbullying/cyberbullying-tip-sheets/NCPC%20Tip%20Sheet%20-%20Tips%20for%20Teens.pdf</p><p>Safaria, T. (2016). Prevalence and impact of cyberbullying in a sample of Indonesian junior high school students. <em>TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology</em>, <em>15</em>(1).</p><p>Schneider, S. K., O&#39;donnell, L., Stueve, A., &amp; Coulter, R. W. (2012). Cyberbullying, school bullying, and psychological distress: A regional census of high school students. <em>American Journal of Public Health</em>, <em>102</em>(1), 171-177.</p><p>Vazsonyi, A. T., Machackova, H., Sevcikova, A., Smahel, D., &amp; Cerna, A. (2012). Cyberbullying in context: Direct and indirect effects by low self-control across 25 European countries. <em>European Journal of Developmental Psychology, 9</em>, 210&ndash;227</p>

SHARE THIS ARTICLE