December 27, 2019

Liburan Asyik Dengan Menjadi Relawan

Masa liburan yang kita tunggu-tunggu sepanjang ... read more

December 26, 2019

The Easier Ways To Say ‘I Love You, Mom’

Seperti yang kamu tahu, bahkan sejak SD, Hari I... read more

January 2, 2020

Ketika Liburan Orang Lain Terlihat Lebih Menyenangkan

Makan siang di Italia, secangkir teh sore di depan menara Eiffel, hingga merayakan ulang tahun di tengah gurun Afrika. We’ve seen it all, through others’ instagram account. 

 

Mengecek media sosial di musim liburan memang agak tricky ya. Banyak sekali postingan liburan yang akan kita temui. Semua orang seakan-akan menikmati liburannya di belahan dunia lain sedangkan kita hanya bisa duduk menyimak keseruan mereka melalui layar smartphone. Selama mata memandang, hati merasa iri, mulut pun ikut menggerutu “mengapa aku tak bisa seperti dia? mengapa liburan dia lebih seru daripada liburanku? Huh, aku berharap liburannya tidak menyenangkan!”. Jika kamu merasakan hal-hal tersebut, itu tandanya kamu merasakan travel envy. 

 

Sebelum membahas mengenai travel envy, alangkah lebih baik kita berkenalan dahulu dengan envy. Envy atau iri hati adalah respon emosi negatif terhadap kelebihan atau pencapaian orang lain. Envy ini bisa tercerminkan melalui keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain atau berharap orang lain kekurangan sesuatu dari kita (Lange & Crusius, 2015). Envy merupakan emosi yang lumrah dirasakan semua orang, hanya saja tingkat kerentanan seseorang untuk merasa envy berbeda-beda (Smith, Parrott, Diener, Hoyle, & Kim, 1999). 

 

Tidak hanya berasal dari dalam diri, envy juga bisa muncul secara situasional. Contoh ketika kita melakukan perbandingan liburan diri sendiri dengan liburan orang lain. Proses inilah yang melatarbelakangi munculnya travel envy. Membandingkan keseruan liburan yang dibagikan orang lain dengan aktivitas liburan kita yang hanya itu-itu saja membuat kita merasa tidak seberuntung orang lain. Kita menjadi ingin merasakan apa yang orang lain rasakan dan tidak bersyukur dengan waktu luang yang bisa kita nikmati. Selain itu, kita juga membuat justifikasi negatif terhadap kesenangan orang lain, seperti “mana bisa dia menikmati musim salju, kedinginan di puncak saja sudah flu berminggu-minggu” atau “kok bisa sih dia menginap di hotel mahal itu, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu?”, dan lain-lain.

 

Menenggelamkan pikiran terhadap hal-hal negatif karena travel envy tentu tidak baik. Kita perlu menyusun cara untuk mengatasi perasaan tersebut. Berikut adalah strategi yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi travel envy di musim liburan ini: 

 

1. Shift your perspective

Salah satu alasan mengapa envy tidak baik untuk kita adalah envy membuat kita terus mengelu-elukan ekspektasi yang berlebihan (Kirmayer, 2017). Ketika merasa envy, kita menginginkan pengalaman orang lain yang (terkadang) belum tentu bisa kita wujudkan. Oleh karena itu, hal pertama yang bisa kita lakukan untuk meredam travel envy adalah dengan mengubah ekspektasi kita menjadi lebih realistis. Lihatlah hal-hal baik yang kamu bisa lakukan selama liburan ini. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, menikmati gelato di cafe sudut kota mungkin dapat membuatmu bahagia. Lihat! Tidak per

 

2. Mudita

Mudita adalah salah satu ajaran Buddha yang mengajak kita untuk berbahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan orang lain, feeling joy in another’s joy. Ketika perasaan travel envy melanda, switch pikiranmu dan ingatlah kata ‘mudita’. Apa salahnya ikut senang dengan kesenangan liburan yang dirasakan orang lain? Bayangkan jika orang tuamu pergi ke air terjun Niagara selama beberapa hari. Kamu pasti tidak sabar untuk menanti mereka pulang dan bercerita mengenai indahnya air terjun Niagara. Terapkan pola pikir serupa ketika kamu melihat postingan liburan orang lain di media sosial. Kamu bisa berbincang banyak mengenai keseruan yang mereka rasakan di tempat wisata tersebut. Semua ini bisa dimulai ketika kamu merasa bahagia dengan kebahagiaan orang lain.

 

3. Menggunakan envy sebagai motivasi

Dengan berbincang mengenai keseruan liburan orang lain, kamu dapat memperluas wawasan sekaligus mendapatkan motivasi baru untuk mempersiapkan liburan selanjutnya. Mungkin selama ini kita malas menabung karena kita tidak pernah tahu bagaimana serunya liburan di tempat tertentu. Nah, melihat keseruan liburan orang lain dapat membuat kita fokus dengan keinginan diri sendiri. Mulailah menabung atau mempersiapkan diri pergi liburan ke suatu tempat. Dengan begitu, kamu dapat mengelola travel envy yang kamu rasakan menjadi lebih positif. Hal ini sesuai dengan tujuan liburan yang sesungguhnya, mengembalikan energi-energi positif. 

 

Selamat berlibur, jangan lupa berbahagia dengan liburanmu dan liburan orang lain ya!  

Tulisan Oleh: Choirunnisa, S. Psi

 

Referensi: 

Kirmayer, M. (2017). How to cope when you're envious of a friend. Diakses dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/casual-close/201711/how-cope-when-you-re-envious-friend

Lange, J., Crusius, J., (2014). Dispositional envy revisited: unraveling the motivational dynamics of benign and malicious envy. Psychology Bulletin, 41(2), 284–294. doi:10.1177/0146167214564959

Smith, R. H., Parrott, W. G., Diener, E. F., Hoyle, R. H., & Kim, S. H. (1999). Dispositional Envy. Personality and Social Psychology Bulletin, 25(8), 1007–1020. doi:10.1177/01461672992511008.

SHARE THIS ARTICLE