Kinokuniya Book Discussion: ‚ÄúThe Parenthood Journey‚Ä

Jakarta - personalgrowth.co.id | Personal Growth, Development and Partnership berkolaborasi dengan Kinokuniya Books menyelenggarakan diskusi buku dengan tema “The Parenthood Journey” yang terinspirasi dari buku “Battle Hymn of the Tiger Mother” oleh Amy Chua. Diskusi buku ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 30 November 2019 di Kinokuniya Bookstore, Plaza Senayan.

Setiap orang tua tentunya ingin memberikan segala sesuatu yang terbaik bagi anak-anaknya, mulai dari memenuhi setiap kebutuhan anak sehari-hari, menyediakan tempat tumbuh kembang terbaik, hingga memberikan pengasuhan dengan cara terbaik. Tidak dapat dipungkiri bahwa di era serba digital seperti sekarang, orang tua banyak menggunakan internet sebagai sumber informasi mengenai pola pengasuhan anak maupun sebagai wadah berbagi mengenai cara pengasuhan yang diterapkannya. Hal ini juga memudahkan orang tua untuk melihat gaya satu sama lain dalam mengasuh anak. 

Hanya saja, ketersediaan informasi yang melimpah seringkali dapat membuat orang tua mempertanyakan kebenaran pola pengasuhannya atau bahkan dapat membuat orang tua menjadi tidak percaya diri terhadap pola pengasuhan yang ia terapkan pada anaknya. Padahal, tidak ada satu cara pengasuhan khusus yang dianggap paling tepat, karena tolak ukur ketepatan penerapan pola asuh pada setiap anak berbeda-beda. Kita tidak dapat menerapkan pola asuh yang sempurna. Hal yang dapat kita lakukan adalah berusaha menjadi orang tua terbaik untuk anak kita, dalam versi kita masing-masing. Oleh karena itu, Personal Growth menyelenggarakan diskusi buku yang bertajuk “The Parenthood Journey: Be the Best Version for Our Children” sebagai wadah untuk berbagi cerita, bertukar pikiran,  dan saling belajar dari sesama orang tua ataupun calon orang tua hebat lainnya. Pada diskusi buku ini, hadir pula narasumber yang sangat inspiratif, yaitu:

  • Ade Nuruf Safrina, ibu dari satu anak, wirausahawan, ekonom, jurnalis

  • Artika Sari Devi, ibu dari dua anak, Puteri Indonesia 2004, public figure

dimoderatori oleh Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, yang merupakan Founder dan CEO Personal Growth, serta seorang psikolog klinis dengan pengalaman lebih dari 25 tahun yang sudah menangani banyak kasus, termasuk masalah perkembangan anak dan parenting.

Acara dipandu oleh Choirunnisa, seorang anak muda yang mewakili Personal Growth. Choirunnisa menjelaskan bahwa acara diskusi buku ini diselenggarakan sebagai salah satu perwujudan visi Personal Growth untuk terus terlibat dalam pemberdayaan bangsa melalui edukasi psikologis dan kesehatan, terutama untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya minat baca. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Ibu Dini sebagai wakil dari Kinokuniya Bookstore. Selanjutnya, Choirunnisa memberi tambahan mengenai hashtag #ImpactTheWorld sebagai kampanye yang diusung oleh Personal Growth untuk mendorong anak muda Indonesia agar mulai memberikan kontribusi kepada masyarakat dari tindakan yang kecil sekalipun, seperti membagikan pengalaman berpartisipasi dalam acara diskusi buku ini.

Ade Safrina Nasution: Entering the Journey of Parenthood

Pengalaman menjadi orang tua akan memberikan tantangan tersendiri bagi setiap orang. Tak terkecuali bagi Ade, selaku ibu muda yang baru saja menjalani peran sebagai orang tua dari putri pertamanya, Padma, yang lahir pada 15 Juni 2018 lalu. 

Ade merupakan seorang ekonom, wirausahawan, dan jurnalis. Di usia yang terbilang muda, Ade dapat dikatakan memiliki karir yang cemerlang. Selain berkiprah di dunia ekonomi, jurnalistik, dan wirausaha, Ade juga membangun BerdayaKrui, yaitu suatu komunitas sosial di wilayah Krui, Sumatera Selatan, yang membuat berbagai aktivitas untuk pengunjung maupun masyarakat lokal, dan fokus pada sektor pendidikan, lingkungan, dan bisnis lokal. 

Ade bercerita bahwa pada bulan Agustus lalu ia memutuskan untuk bekerja dari rumah agar dapat menjadi full-time mom untuk Padma, serta dapat 100% terlibat dalam 1000 hari pertama pertumbuhan dan perkembangan anaknya. 

“Quality time dengan put aside everything else so it’s just me and Padma. Being fully conscious saat urus anak, ajak ngobrol dan eye contact.”

Menurut Ade, menghabiskan waktu yang berkualitas dengan anak adalah seperti investasi untuk kehidupan kita dan anak kita di masa depan. Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat, namun Ade percaya bahwa quality time yang ia curahkan untuk anaknya akan terbayar ketika anaknya sudah lebih besar nanti.

Sebagai orang tua baru, Ade tentu mengalami banyak kebingungan dalam mengasuh putrinya. Terkadang Ade juga menjadikan ajaran orang tuanya sebagai referensi. Tetapi, Ade menekankan bahwa kita tetap harus mengevaluasi ajaran yang dulu kita terima dan tidak copy-paste ajaran orang tua kita, karena pasti akan ada ajaran yang sudah tidak sesuai untuk anak kita.

Ade sadar bahwa setiap orang tua tentunya ingin memberikan semua yang terbaik untuk anak-anaknya.

“Sadar juga bahwa kita adalah manusia, jadi kita tidak mungkin bisa menjadi super parents untuk anak-anak kita,” kata Ade.

Penting bagi orang tua untuk sadar akan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki agar dapat terus berkembang menjadi orang tua yang lebih baik untuk anak-anak kita. 

Artika Sari Devi: Parenting is Continuous Learning

Dalam acara diskusi buku ini, Artika membagikan pengalamannya menjadi ibu dari dua orang putri yang kini sedang beranjak besar, yaitu Abbey (10) dan Zoe (6). 

Artika bercerita bahwa menjadi orang tua dari dua orang putri dengan sifat yang sangat berbeda menantangnya untuk dapat fleksibel, namun tetap tegas. Cara didik yang berhasil diterapkan di satu anak belum tentu berhasil diterapkan pada anak yang lainnya. 

Lebih lanjut, Artika menjelaskan bahwa sebagai orang tua, kita pasti akan menghadapi banyak perbedaan pendapat dengan orang-orang di sekitar kita mengenai cara mendidik anak. Oleh karena itu, hal yang penting bukanlah melarang anak untuk tidak melakukan ini itu, namun berilah pengetahuan kepada anak mengapa ia harus atau tidak harus melakukan sesuatu. 

“Sadari bahwa anak kita suatu saat akan terjun juga ke dunia nyata di mana kita akan susah untuk mengontrol mereka, jadi penting untuk beri pemahaman sendiri ke anak kita atas ajaran kita,” papar Artika.

Artika sangat menekankan pentingnya berkomunikasi dengan anak. Menurutnya, komunikasi dan quality time dengan anak tidak perlu dilakukan dengan cara-cara yang ribet. Di tengah kesibukannya, Artika berusaha menyempatkan diri berbincang dengan anak-anaknya dan update pengetahuannya tentang kehidupan anak-anak, seperti saat berada di perjalanan mengantar anak berangkat atau pulang sekolah. Apabila masih memiliki tenaga sepulang kerja, Artika juga sering menemani anak-anaknya sebelum tidur dan mengajak mereka untuk pillowtalk. Saat itulah Artika dan anak-anaknya dapat mengevaluasi diri dengan saling memberi feedback terhadap satu sama lain. 

Artika mengaku sempat ‘kecolongan’ saat putri bungsunya mengalami speech delay atau keterlambatan bicara. Saat itu Artika merasa cukup percaya diri dengan keberhasilannya mendidik anak sulungnya, sehingga menjadi lalai saat anak keduanya sedang memasuki tahap belajar bicara. Artika cukup sibuk dengan pekerjaannya dan kurang mengajak anak bungsunya berkomunikasi, sehingga anaknya lebih banyak berinteraksi dengan gadget dibanding dengan orang-orang di sekitarnya.

Sejak saat itu, Artika menjadi lebih aware dengan pentingnya mengajak anak berkomunikasi dan berusaha untuk menjauhkan handphone saat berkomunikasi dengan anak, sehingga waktu yang ia habiskan dengan anak-anaknya bisa lebih berkualitas. 

Terkadang Artika juga merefleksikan cara didik yang ia terapkan kepada anak-anaknya dengan ajaran dari orang tuanya dulu. Tentu akan ada beberapa pengalaman tidak mengenakan yang kita ingat dari ajaran orang tua kita. Tetapi, kita tidak seharusnya menyalahkan orang tua. 

“Sadari bahwa mereka adalah manusia biasa, mereka pasti sudah berusaha semampu mereka untuk menjadi orang tua yang terbaik untuk kita. Cobalah ambil sisi baiknya dari ajaran mereka.” 

Artika bercerita bahwa dulu ia sering dipaksakan untuk menggapai cita-cita tertentu yang diinginkan orang tuanya. Ia mengaku memang butuh waktu untuk meyakinkan orang tuanya bahwa ia dapat mencapai kesuksesan dengan caranya sendiri. Namun, sekarang Artika dapat mengambil nilai baik dari pengalaman tersebut, yaitu diajarkan untuk memiliki ‘mimpi’. Dengan begitu, kita juga dapat berekonsiliasi dengan pengalaman yang pernah mengganjal di hati kita dan akhirnya bisa fokus untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi untuk anak-anak kita.

 

 

  • WHEN

    30 November 2019


  • BUDGET

    Rp., - / package


  • WHERE

    Kinokuniya Books, Plaza Senayan


  • RSVP


  • SHARE

OTHER EVENTS