Kinokuniya Book Discussion: Before I Say "I Do"

Karena Cinta Saja Tidak Cukup Untuk Menikah

Oleh Choirunnisa (Content Development)

 

Menciptakan fondasi yang kuat untuk pernikahan yang awet dan bahagia tentu membutuhkan banyak usaha. Cinta bisa saja membuat dua insan bersatu akan tetapi pasangan pada hakikatnya adalah dua individu berbeda yang memutuskan untuk hidup bersama. Perbedaan tersebut bisa saja memicu konflik dalam pernikahan baik yang bersifat minor ataupun mayor. Apabila pasangan tidak memiliki cara untuk menyelesaikan masalah dengan sehat, maka konflik yang ada bisa berujung pada perceraian. Di Indonesia sendiri, tren tingkat perceraian dari tahun ke tahun terus meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa persentase tingkat perceraian mencapai 20% dari seluruh pernikahan yang tercatat pada tahun 2016. Sementara itu, studi pada masyarakat Amerika Serikat menunjukkan bahwa 50% dari pasangan yang pertama kali menikah berakhir pada perceraian. Dan dari pasangan yang bertahan, banyak di antaranya yang merasa tidak bahagia dalam pernikahannya (American Psychological Association).

Tidak ada satu pun dari kita yang merencakan pernikahan hanya untuk bercerai. Kita tentunya menginginkan pernikahan yang harmonis dan untuk membangun pernikahan yang harmonis diperlukan persiapan sebelum pernikahan itu terjadi. Oleh karena itu Personal Growth bekerja sama dengan Kinokuniya menyelenggarakan diskusi buku “Before I Say ‘I do’” pada tanggal 14 September 2019 di Books Kinokuniya Plaza Senayan. Acara ini membahas mengenai hal-hal apa saja yang perlu disiapkan sebelum menikah berdasarkan buku Things I Wish I’d Known Before We Got Married oleh Gary Chapman. Dalam acara ini Esha Mahendra (Baba) dan Ankatama (Bibu) juga membagi kisah perjalanan pernikahan mereka sesuai dengan pembahasan buku. Selain itu Psikolog Ratih Ibrahim membagikan pengalamannya sebagai konselor pernikahan selama lebih dari 25 tahun. Acara ini dimoderatori oleh Ghianina Armand dan dihadiri oleh 51 peserta.

Layaknya kehidupan pernikahan pada umumnya, Esha dan Anka juga mengalami berbagai fase dalam pernikahan. Adaptasi berbagai perbedaan dalam rumah tangga pernah mereka lalui. Psikolog Ratih Ibrahim juga sering menemui klien dengan permasalahan pernikahan yang mirip dengan topik yang sedang dibahas. Diskusi dan berbagi pengalaman dalam acara ini berjalan dengan sangat menyenangkan. Cerita yang dibagi merupakan cerita yang dekat dengan peserta yang saat itu memiliki pasangan dan memutuskan untuk menikah. 

 

Dari diskusi yang dilakukan, narasumber dan moderator sepakat bahwa berkomunikasi dengan pasangan mengenai perbedaan kebiasaan atau perbedaan keluarga sebelum menikah penting untuk dilakukan. Kita tidak bisa menghiraukan perbedaan kecil yang dimiliki pasangan hanya karena pikiran bahwa cinta dapat meluruskan semuanya. Ketika kita menikah, perbedaan tersebut dapat berpeluang untuk menjadi konflik yang lebih besar. Untuk menghindari hal tersebut, kita dan pasangan perlu menemukan pola komunikasi yang baik dan efektif untuk menyelesaikan masalah yang mungkin muncul ketika sudah menikah. 

 

Persiapan menikah tidak hanya dilakukan untuk menggelar resepsi pernikahan, tetapi juga untuk menjalani kehidupan pernikahan selama sisa hidup kita. Mempersiapkan diri sedini mungkin akan dapat membantu kita dan pasangan untuk menghadapi tantangan kehidupan pernikahan yang beragam nantinya.

  • WHEN

    14 September 2019


  • BUDGET

    Rp., - / package


  • WHERE

    Kinokuniya Books, Plaza Senayan


  • RSVP


  • SHARE

OTHER EVENTS