Social Media: Space for Mental Health Intervention

Pada Sabtu, 27 Oktober 2018, Psikolog Personal Growth, Felicia Ilona, M.Psi., Psikolog menjadi salah satu pembicara talkshow “Social Media: Space for Mental Health Intervention” yang diselenggarakan oleh Komunitas Into The Light Indonesia. Talkshow ini juga mengundang Agung Yudha (Chief Representative Twitter Indonesia), Ade Firman (Aktor), Beby JKT48 (Public Figure) sebagai pembicara dan dimoderatori oleh Yasmine Parawina Larasati dari Komunitas Into The Light. Talkshow ini bertujuan untuk mengajak masyarakat, khususnya orang muda, untuk menjadikan media sosial sebagai media untuk intervensi krisis kesehatan jiwa. Masyarakat diharapkan dapat lebih melihat potensi positif media sosial sebagai tempat intervensi kesehatan mental dan sebagai tempat untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis seseorang sehingga pembahasan media sosial tidak terpaku dalam pembahasan dampak negatif dari media sosial tersebut. Talkshow ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama, yaitu “Let’s be aware”, membahas fenomena orang muda dan media sosial, serta dampaknya. Sesi kedua, yaitu “How to intervene”, membahas penanganan atau intervensi psikologis yang dapat dilakukan di media sosial. Baik itu untuk pencegahan gangguan-gangguan kesehatan mental atau meningkatkan kesejahteraan psikologis seseorang.

 

Pada sesi pertama, “Let’s be aware”, Psikolog Felicia Ilona membahas bahwa orang muda aktif menggunakan media sosial karena berkaitan dengan tugas perkembangan psikososial dirinya, yaitu mencari eksistensi diri dan menambah relasi. Psikolog Felicia Ilona juga menjelaskan bahwa media sosial dapat berdampak positif dan negatif terhadap psikologis seseorang. Media sosial dapat membantu orang-orang yang memiliki kesulitan dalam berkomunikasi atau bercerita secara langsung dengan orang lain, membantu seseorang untuk mendapatkan dukungan, dan memudahkan seseorang dalam mendapatkan pekerjaan. Namun, media sosial juga dapat berdampak negatif karena penyalahgunaan media tersebut, yaitu sebagai sarana bullying atau penggunaan media sosial yang berlebihan. Adiksi dan fenomena Fear of missing out (FoMo), dimana seseorang merasa bahwa dirinya harus up-to-date dengan informasi terkini dan takut ketinggalan informasi, juga menjadi dampak negatif dari media sosial yang membuat seseorang berkutat dengan media sosial mereka.

 

Pada sesi kedua, “How to intervene”, Psikolog Felicia Ilona menjelaskan bahwa dalam menghadapi bully atau hate-speech yang pertama kali harus dilakukan adalah menyadari bahwa “netizen is being netizen” dan menerima diri sendiri. Ambil waktu untuk menenangkan diri sendiri dan tidak apa-apa untuk menceritakan kepada orang lain atas bullying yang dirasakan. Jika seseorang sebagai bystander yang melihat fenomena tersebut terjadi pada orang lain, berikan dukungan kepada korban. Jika melihat adanya pelaku kekerasan, langsung berikan teguran atau masukan kepada orang tersebut. Kemudian, jika seseorang mendapatkan emosi negatif dari media sosial, coba berhenti terlebih dahulu. Coba tarik dan tenangkan diri dengan cara menulis atau bercerita kepada orang lain. Media sosial menentukan diri kita dan berdampak pada diri kita. Oleh karena itu, mem-follow konten-konten positif di media sosial diperlukan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan jiwa kita.

  • WHEN

    27 October 2018


  • BUDGET

    Rp., - / package


  • WHERE

    GO-LEARN Auditorium


  • RSVP


  • SHARE

OTHER EVENTS